1. Ada bunga, ada lebah (suatu tempat yang
mendatangkan rezeki, pasti akan di datangi oleh banyak orang).
2. Ada padang, ada belalang (Giat bekerja untuk meraih keberhasilan).
3. Ada udang di balik batu (Ada maksud yang tersembunyi).
4. Ada gula ada semut (Tempat yang banyak mendatangkan rezeki di situ pasti banyak orang yang berdatangan).
5. Adat periuk berkerak, adat lesung berdedak (Jika ingin mengambil keuntungan, harus siap menanggung kerugiannya).
6. Adat lama pusaka usang (adat istiadat tak akan pernah berubah).
7. Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam (Dalam memecahkan masalah, orang muda harus lebih bersabar dan yang tua dapat memberi teladan yang baik).
8. Adat diisi, lembaga dituang (Melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan).
9. Adat gunung tempatan kabut (Kepada yang pandai kita bertanya, kepada yang kaya kita meminjam).
10. Adat hidup tolong-menolong, adat mati jenguk-menjenguk (Hendaklah saling tolong menolong dalam menghadapi kesulitan).
11. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung (Segala sesuatu ada tata caranya menurut adat yang telah ditetapkan).
12. Air mata jatuh ke perut (Seseorang yang pandai menyembunyikan kedukaannya).
13. Air digenggam tiada tiris (Orang kaya yang tak mau bersedekah kepada orang miskin).
14. Air susu dibalas air tuba (Suatu kebaikan dibalas dengan kejahatan).
15. Air beriak tanda tak dalam (Orang bodoh berlagak pintar).
16. Air tenang menghanyutkan (Orang yang pandai biasanya pendiam).
17. Air besar batu bersibak (Persaudaraan menjadi cerai-berai apabila terjadi perselisihan).
18. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam (Orang yang sedang susah hati).
19. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbangan juga (Kelakuan atau tabiat anak menurun dari orang tuanya).
20. Air pun ada pasang surutnya (Keadaan orang tidak tetap, suka dan duka datang berganti).
21. Air yang dingin dapat padamkan api (Orang yang sedang marah dapat dilunakkan dengan kata-kata lembut).
22. Air jernih ikannya jinak (negeri yang aman penduduknya makmur).
23. Air orang disauk, ranting orang patah, adat orang diturut (Sudah seharusnya kita mengikuti adat istiadat negeri yang kita tempati).
24. Air sama air kelak menjadi satu, sampah itu ke tepi juga (Jika terjadi perselisihan keluarga pada akhirnya berbaikan kembali).
25. Air yang tenang kadang berbuaya (Orang pendiam jangan dikira penakut).
26. Akal tak sekali datang, runding tak sekali tiba (Setiap usaha tak ada yang langsung hasil dan sempurna, karena pasti akan melalui berbagai rintangan).
27. Akik disangka batu (Merasa terhina karena salah sangka).
28. Awal diingat akhir tiada (Melakukan sesuatu tanpa dipikir panjang).
29. Alang berjawab, tepuk berbalas (Kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan).
30. Anak baik menantu molek (Mendapat keuntungan berlipat ganda).
31. Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan (Selalu memikirkan urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan).
32. Anak panah sudah terlepas dari busur tak dapat dikembalikan lagi(Rahasia harus disimpan rapat, jika sudah terbuka tak akan dapat disembunyikan lagi).
33. Anak sendiri disayangi, anak tiri dihardik (Bagaimanapun adilnya seseorang, kepentingan sendiri selalu diutamakan).
34. Angan lalu paham bertumbuk (Kalau di angan dapat dikerjakan, tetapi ternyata sangat sulit pelaksanaannya).
35. Angan-angan menerawang langit (Cita-cita setinggi langit).
36. Angan-angan mengikat tubuh (Bersusah hati karena memikirkan yang bukan-bukan).
37. Angguk bukan, geleng iya (Lain dengan yang diucapkan).
38. Angin berputar, ombak bersabung (Menghadapi sesuatu yang sangat sulit).
39. Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam (Suatu rahasia tak dapat disembunyikan selamanya, pada akhirnya akan terkuak juga).
40. Angkuh terbawa, tampan tertinggal (Baik rupanya, tapi tak baik sikapnya).
41. Anjing ditepuk menjungkit ekor (Orang hina ketika mendapat keberuntungan menjadi sombong).
42. Anjing diberi makan nasi, kapan akan kenyang (Tak ada manfaatnya berbuat kebaikan pada orang jahat).
43. Anjing galak babi berani (Sama-sama berani).
44. Anjing menyalak tiada menggigit (Bermulut besar tapi penakut).
45. Anjing dipukul sekali pun akan kembali ke tempat tulang (Seseorang yang jahat akan mengulang perbuatannya dengan tidak malu atau takut pada hukuman).
46. Alu patah lesung hilang (Terus-menerus ditimpa kemalangan).
47. Api padam puntung berasap (Perkara yang sudah putus tapi timbul lagi).
48. Api padam puntung hanyut (Keadaannya sudah benar-benar bangkrut).
49. Arang meskipun dibasuh dengan air mawar sekalipun tak kan pernah putih (Tabiat seseorang yang sudah buruk tak akan dapat diperbaiki lagi).
50. Asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan (Tabiat orang tak akan berubah).
51. Asam di darat ikan di laut bertemu dalam belanga (Kalau sudah jodoh pasti akan bertemu).
52. Asing lubuk, asing ikannya (Lain daerah lain adatnya).
53. Asing maksud, asing sampai (Tak sesuai dengan yang diharapkannya).
54. Atap rumbia perabung upih (Barang yang baik bercampur dengan barang yang baik).
55. Aur ditana, betung tumbuh (Mendapat keuntungan yang berlipat).
56. Awak menangis diberi pisang (Ketika bersedih dibujuk hati pun menjadi senang).
57. Awak sakit daging menimbun (Berpura-pura kekurangan uang padahal berlebihan hingga dapat menabung).
58. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya (Orang lain yang mendapat keuntungan dari hasil kerja keras kita).
59. Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai terjungkat (Untuk menutupi kesalahannya, orang lain yang dijadikan kambing hitam).
60. Asal ditugal adalah benih (Setiap perbuatan pasti ada hasilnya).
61. Ayam bertelur di padi, mati kelaparan (Orang yang tidak pernah puas, meskipun sudah berkecukupan).
62. Ada batang cendawan tumbuh (Di mana kita berada, di situlah kita mendapat rezeki).
63. Ayam berkokok, hari siang (Sudah ada tanda yang pasti).
64. Ayam ditambat disambar elang (Bernasib malang).
65. Anak badak dihambat-hambat (Sengaja menentang bahaya).
66. Ada uang, ada barang (Jika sanggup membayar lebih akan mendapat barang yang lebih baik pula)>
67. Ada beras taruh dalam padi (Rahasia hendaklah disimpan baik-baik).
68. Adakah buaya menolak bangkai (Orang jahat akan berbuat jahat jika ada kesempatan).
69. Alang-alang berdawat biarlah hitam (Jika mengerjakan sesuatu janganlah tanggung-tanggung).
70. Asing biduk galang diletak (Lain yang dimaksud, lain yang dikerjakan).
71. Ada rupa, ada harga (Harga barang ditentukan oleh keadaan barang).
72. Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas (Selalu ada kesempatan untuk balas dendam).
73. Adat diisi janji dilabuh (Adat harus dijalankan, persetujuan harus ditepati).
74. Anak kambing tak kan jadi anak harimau (Biasanya jika keturunannya dari orang lemah tak mungkin menjadi orang kuat).
75. Ada laga sekandang (Berkelahi dengan keluarga sendiri).
76. Adakah kayu di rimba sama tinggi (Manusia itu tak kan sama,ada yang pandai, ada yang bodoh, ada yang miskin, dan ada yang kaya).
77. Apa gunanya kemenyan sebesar tungku kalau tidak dibakar (Meskipun mempunyai ilmu setinggi langit, jika tak diajarkan kepada orang lain akan sia-sia belaka).
78. Asalnya kuda itu kuda juga dan asalnya keledai itu keledai juga (Perbuatan baik hasilnya kebaikan, sedangkan perbuatan jahat hasilnya kejahatan juga).
79. Ada nyawa, ada rezeki (Selama masih hidup, selama itu pula akan memperoleh penghidupan).
80. Adat pasang berturun naik (Keadaan yang selalu berubah-ubah, terutama tentang kejayaan seseorang).
81. Ada paha kaki, ada nyawa ada rezeki (Setiap orang memiliki rezeki masing-masing).
82. Asal ada sama di hati, gajah terantai boleh dilepaskan (Kalau sudah ada persetujuan, apa pun rintangannya dapat diatasi).
83. Ada rotan, ada duri (Di balik kesenangan, tentu ada kemalangan).
84. Ada sampan hendak berenang (Sengaja bersusah-susah yang sebenarnya tak perlu).
85. Ada sirih hendak makan sepah (Meskipun ada yang lebih baik, tetap menginginkan yang tak baik).
86. Akan dijadikan tabuh singkat, akan dijadikan genderang berlebih (Mengerjakan pekerjaan yang serba tanggung).
87. Ada sama dimakan, tidak ada sama ditahan (Merasakan bahagia bersama-sama, merasa susah bersama-sama).
88. Adat teluk timbunan kapal, adat gunung timbunan kabut (Meminta kepada yang punya, bertanya kepada yang pandai).
89. Ada air, ada ikan (Di mana kita tinggal, di situ kita mendapatkan rezeki).
90. Akal akar berpulas tak patah (Orang yang cerdik tak pernah kehabisan akal).
91. Akal tak sekali tiba (Tak akan ada yang langsung sempurna, harus berangsur-angsur).
92. Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang (Jika berhadapan perkataannya manis, tapi jika di belakang perkataannya buruk).
93. Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit (Menyelesaikan pekerjaan jangan tanggung-tanggung).
94. Anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang kampung dipertenggangkan (Pertimbangkan segala sesuatunya dengan benar, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan).
95. Ada angin baik (Punya banyak harapan).
96. Antan patah, lesung hilang (Orang yang ditimpa musibah terus-menerus).
97. Arang sudah menjadi abu (Sudah rusak sama sekali).
98. Ada sama dimakan, tidak ada sama dicari (Susah dan senang ditanggung bersama).
99. Ada bukit dibalik pendakian (Baru saja menyelesaikan suatu masalah, muncul masalah baru).
100. Ada hujan, ada panas (Ada baik, ada buruk).
101. Adat berkawan zaman berzaman (Apabila berkawan hendaknya untuk selamanya)
102. Adat sama dijunjung, lembaga disanjung, pusaka sama dijaga (Adat istiadat hendaknya harus dihormati, dipatuhi, dan dijaga kelestariannya).
103. Adat berunding di atas rumah (Jangan membicarakan masalah di sembarang tempat).
104. Adat teluk timbunan kapal, adat muara timbunan ikan (Meminta kepada yang punya, bertanya kepada yang pandai).
105. Adat air cair, adat api panas (Segala sesuatu memiliki sifat dan keistimewaan masing-masing).
106. Adat dipakai baru, pakaian dipakai usang (Adat tidak dimakan zaman, bahkan jika dipakai dan ditaati akan terpelihara dengan baik, sebaliknya harta benda jika tidak dijaga dengan baik akan rusak).
107. Adat ayam ke lesung, adat itik ke pelimbahan (Sesuatu itu akan berjalan sesuai dengan kodratnya).
108. Air sudah keruh dari hulunya (Suatu masalah yang tidak baik dari awalnya)
109. Air pasang tidak menghanyutkan (Pekerjaan besar tapi tidak membawa hasil).
110. Air ditetak tak kan putus (Mengerjakan sesuatu yang menguntungkan orang lain).
111. Akal hilang paham tertumbuk (Buntu semua jalan pikiran).
112. Akar terjumbai tempat siamang berpegang, menganjur tempat tupai menegun (Dari perkataan seseorang, dapat diketahui bahwa ia bersalah).
113. Aku nampak olah, kelibat hang sudah kutahu (Bagi orang yang bijaksana dapat mengetahui seberapa tinggi ilmu seseorang).
114. Aku tak hendak, engkau tak ingin (Sama-sama tidak mau).
115. Alah mau bertimbang enggan (Tidak menepati janji).
116. Alah bisa karena biasa (Segala kesulitan tidak terasa jika sudah terbiasa mengerjakannya).
117. Alah limau oleh benalu (Penduduk asli kalah oleh pendatang).
118. Alah membeli memang memakai (Lebih baik mengeluarkan uang lebih besar untuk mendapatkan barang yang baik dan memuaskan).
119. Alah disabung menang disorak (Sudah kalah tapi masih sombong).
120. Alamat biduk akan karam (Pertanda akan mengalami kesusahan).
121. Angguk-angguk kukuran (Seolah-olah patuh dan bodoh, tapi banyak akal).
122. Anjing menyalak di ekor gajah (Orang yang lemah hendak melawan orang yang berkuasa).
123. Apel merah mengundang batu (Sesuatu yang menarik perhatian dapat mengundang orang untuk memilikinya).
124. Awan berarak ditangisi (Bersedih hati mengenang nasib yang tak beruntung).
125. Arang habis, besi binasa (Pekerjaan yang tidak menghasilkan apa-apa).
126. Asal ada kecil pun pada (Jika tidak banyak tersedia, sedikit pun cukup).
127. Aus telunjuk mencolek ragam (Orang yang selalu ditimpa kemiskinan).
128. Awak rendah, sangkutan tinggi (Pengeluaran lebih besar daripada penghasilan).
129. Awal dikenal, akhir tidak (Tidak mempertimbangkan akibatnya).
130. Ayam bertelur sebutir ribut seluruh negeri, penyu bertelur beribu-ribu tak seorang pun tahu (Punya kekayaan sedikit sudah membanggakan diri).
131. Ayam berinduk, sirih berjunjung (Orang yang lemah harus dilindungi).
132. Ayam hitam terbang malam, bertali ijuk bertambang tanduk, hinggap di kebun rimbun (Kejahatan yang tidak atau belum diketahui orang lain)
133. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasai, bertali benang bertambang tanduk (Suatu masalah yang telah diketahui semua orang).
134. Ayam tangkas di gelanggang (Orang yang pandai berbicara atau berpidato di depan umum).
135. Ayam lepas tangan bercirit (Seseorang yang berbuat kejahatan, akhirnya mendapat malu).
136. Anak badak dihambat-hambat (Sengaja mencari bahaya).
137. Adat rimba, siapa berani ditaati (Penguasa yang melalaikan tugas dan hukum).
138. Adat bersendi syarak, syarak bersendi adat (Sebelum bertindak dipikirkan untung dan ruginya).
139. Adat negeri memagar negeri, adat kampung memagar kampung (Suka menolong sesama).
140. Adakah hilang bisa ular karena menyusup akar (Orang besar jika merendahkan diri tetap saja derajatnya tidak akan turun).
141. (air) susu dibalas dengan (air) tuba
kebaikan dibalas dengan kejahatan
142. (bagai) duri dalam daging
sesuatu yang selalu menyakitkan hati atau mengganggu pikiran
>> (sampai) ke tulang sumsum
, mendalam sekali (perasaan dingin dsb)
143. (sebagai durian) pangsa menunjukkan bangsa (sebagai durian menunjukkan pangsa nya)
kelakuan (perkataan dsb) seseorang menunjukkan tinggi rendahnya budi pekerti (asal dsb)
144. (seperti) abu di atas tanggul
tidak tetap kedudukannya (sewaktu-waktu dapat dipecat dsb)
2. Ada padang, ada belalang (Giat bekerja untuk meraih keberhasilan).
3. Ada udang di balik batu (Ada maksud yang tersembunyi).
4. Ada gula ada semut (Tempat yang banyak mendatangkan rezeki di situ pasti banyak orang yang berdatangan).
5. Adat periuk berkerak, adat lesung berdedak (Jika ingin mengambil keuntungan, harus siap menanggung kerugiannya).
6. Adat lama pusaka usang (adat istiadat tak akan pernah berubah).
7. Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam (Dalam memecahkan masalah, orang muda harus lebih bersabar dan yang tua dapat memberi teladan yang baik).
8. Adat diisi, lembaga dituang (Melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan).
9. Adat gunung tempatan kabut (Kepada yang pandai kita bertanya, kepada yang kaya kita meminjam).
10. Adat hidup tolong-menolong, adat mati jenguk-menjenguk (Hendaklah saling tolong menolong dalam menghadapi kesulitan).
11. Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung (Segala sesuatu ada tata caranya menurut adat yang telah ditetapkan).
12. Air mata jatuh ke perut (Seseorang yang pandai menyembunyikan kedukaannya).
13. Air digenggam tiada tiris (Orang kaya yang tak mau bersedekah kepada orang miskin).
14. Air susu dibalas air tuba (Suatu kebaikan dibalas dengan kejahatan).
15. Air beriak tanda tak dalam (Orang bodoh berlagak pintar).
16. Air tenang menghanyutkan (Orang yang pandai biasanya pendiam).
17. Air besar batu bersibak (Persaudaraan menjadi cerai-berai apabila terjadi perselisihan).
18. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam (Orang yang sedang susah hati).
19. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbangan juga (Kelakuan atau tabiat anak menurun dari orang tuanya).
20. Air pun ada pasang surutnya (Keadaan orang tidak tetap, suka dan duka datang berganti).
21. Air yang dingin dapat padamkan api (Orang yang sedang marah dapat dilunakkan dengan kata-kata lembut).
22. Air jernih ikannya jinak (negeri yang aman penduduknya makmur).
23. Air orang disauk, ranting orang patah, adat orang diturut (Sudah seharusnya kita mengikuti adat istiadat negeri yang kita tempati).
24. Air sama air kelak menjadi satu, sampah itu ke tepi juga (Jika terjadi perselisihan keluarga pada akhirnya berbaikan kembali).
25. Air yang tenang kadang berbuaya (Orang pendiam jangan dikira penakut).
26. Akal tak sekali datang, runding tak sekali tiba (Setiap usaha tak ada yang langsung hasil dan sempurna, karena pasti akan melalui berbagai rintangan).
27. Akik disangka batu (Merasa terhina karena salah sangka).
28. Awal diingat akhir tiada (Melakukan sesuatu tanpa dipikir panjang).
29. Alang berjawab, tepuk berbalas (Kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan).
30. Anak baik menantu molek (Mendapat keuntungan berlipat ganda).
31. Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan (Selalu memikirkan urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan).
32. Anak panah sudah terlepas dari busur tak dapat dikembalikan lagi(Rahasia harus disimpan rapat, jika sudah terbuka tak akan dapat disembunyikan lagi).
33. Anak sendiri disayangi, anak tiri dihardik (Bagaimanapun adilnya seseorang, kepentingan sendiri selalu diutamakan).
34. Angan lalu paham bertumbuk (Kalau di angan dapat dikerjakan, tetapi ternyata sangat sulit pelaksanaannya).
35. Angan-angan menerawang langit (Cita-cita setinggi langit).
36. Angan-angan mengikat tubuh (Bersusah hati karena memikirkan yang bukan-bukan).
37. Angguk bukan, geleng iya (Lain dengan yang diucapkan).
38. Angin berputar, ombak bersabung (Menghadapi sesuatu yang sangat sulit).
39. Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam (Suatu rahasia tak dapat disembunyikan selamanya, pada akhirnya akan terkuak juga).
40. Angkuh terbawa, tampan tertinggal (Baik rupanya, tapi tak baik sikapnya).
41. Anjing ditepuk menjungkit ekor (Orang hina ketika mendapat keberuntungan menjadi sombong).
42. Anjing diberi makan nasi, kapan akan kenyang (Tak ada manfaatnya berbuat kebaikan pada orang jahat).
43. Anjing galak babi berani (Sama-sama berani).
44. Anjing menyalak tiada menggigit (Bermulut besar tapi penakut).
45. Anjing dipukul sekali pun akan kembali ke tempat tulang (Seseorang yang jahat akan mengulang perbuatannya dengan tidak malu atau takut pada hukuman).
46. Alu patah lesung hilang (Terus-menerus ditimpa kemalangan).
47. Api padam puntung berasap (Perkara yang sudah putus tapi timbul lagi).
48. Api padam puntung hanyut (Keadaannya sudah benar-benar bangkrut).
49. Arang meskipun dibasuh dengan air mawar sekalipun tak kan pernah putih (Tabiat seseorang yang sudah buruk tak akan dapat diperbaiki lagi).
50. Asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan (Tabiat orang tak akan berubah).
51. Asam di darat ikan di laut bertemu dalam belanga (Kalau sudah jodoh pasti akan bertemu).
52. Asing lubuk, asing ikannya (Lain daerah lain adatnya).
53. Asing maksud, asing sampai (Tak sesuai dengan yang diharapkannya).
54. Atap rumbia perabung upih (Barang yang baik bercampur dengan barang yang baik).
55. Aur ditana, betung tumbuh (Mendapat keuntungan yang berlipat).
56. Awak menangis diberi pisang (Ketika bersedih dibujuk hati pun menjadi senang).
57. Awak sakit daging menimbun (Berpura-pura kekurangan uang padahal berlebihan hingga dapat menabung).
58. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya (Orang lain yang mendapat keuntungan dari hasil kerja keras kita).
59. Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai terjungkat (Untuk menutupi kesalahannya, orang lain yang dijadikan kambing hitam).
60. Asal ditugal adalah benih (Setiap perbuatan pasti ada hasilnya).
61. Ayam bertelur di padi, mati kelaparan (Orang yang tidak pernah puas, meskipun sudah berkecukupan).
62. Ada batang cendawan tumbuh (Di mana kita berada, di situlah kita mendapat rezeki).
63. Ayam berkokok, hari siang (Sudah ada tanda yang pasti).
64. Ayam ditambat disambar elang (Bernasib malang).
65. Anak badak dihambat-hambat (Sengaja menentang bahaya).
66. Ada uang, ada barang (Jika sanggup membayar lebih akan mendapat barang yang lebih baik pula)>
67. Ada beras taruh dalam padi (Rahasia hendaklah disimpan baik-baik).
68. Adakah buaya menolak bangkai (Orang jahat akan berbuat jahat jika ada kesempatan).
69. Alang-alang berdawat biarlah hitam (Jika mengerjakan sesuatu janganlah tanggung-tanggung).
70. Asing biduk galang diletak (Lain yang dimaksud, lain yang dikerjakan).
71. Ada rupa, ada harga (Harga barang ditentukan oleh keadaan barang).
72. Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas (Selalu ada kesempatan untuk balas dendam).
73. Adat diisi janji dilabuh (Adat harus dijalankan, persetujuan harus ditepati).
74. Anak kambing tak kan jadi anak harimau (Biasanya jika keturunannya dari orang lemah tak mungkin menjadi orang kuat).
75. Ada laga sekandang (Berkelahi dengan keluarga sendiri).
76. Adakah kayu di rimba sama tinggi (Manusia itu tak kan sama,ada yang pandai, ada yang bodoh, ada yang miskin, dan ada yang kaya).
77. Apa gunanya kemenyan sebesar tungku kalau tidak dibakar (Meskipun mempunyai ilmu setinggi langit, jika tak diajarkan kepada orang lain akan sia-sia belaka).
78. Asalnya kuda itu kuda juga dan asalnya keledai itu keledai juga (Perbuatan baik hasilnya kebaikan, sedangkan perbuatan jahat hasilnya kejahatan juga).
79. Ada nyawa, ada rezeki (Selama masih hidup, selama itu pula akan memperoleh penghidupan).
80. Adat pasang berturun naik (Keadaan yang selalu berubah-ubah, terutama tentang kejayaan seseorang).
81. Ada paha kaki, ada nyawa ada rezeki (Setiap orang memiliki rezeki masing-masing).
82. Asal ada sama di hati, gajah terantai boleh dilepaskan (Kalau sudah ada persetujuan, apa pun rintangannya dapat diatasi).
83. Ada rotan, ada duri (Di balik kesenangan, tentu ada kemalangan).
84. Ada sampan hendak berenang (Sengaja bersusah-susah yang sebenarnya tak perlu).
85. Ada sirih hendak makan sepah (Meskipun ada yang lebih baik, tetap menginginkan yang tak baik).
86. Akan dijadikan tabuh singkat, akan dijadikan genderang berlebih (Mengerjakan pekerjaan yang serba tanggung).
87. Ada sama dimakan, tidak ada sama ditahan (Merasakan bahagia bersama-sama, merasa susah bersama-sama).
88. Adat teluk timbunan kapal, adat gunung timbunan kabut (Meminta kepada yang punya, bertanya kepada yang pandai).
89. Ada air, ada ikan (Di mana kita tinggal, di situ kita mendapatkan rezeki).
90. Akal akar berpulas tak patah (Orang yang cerdik tak pernah kehabisan akal).
91. Akal tak sekali tiba (Tak akan ada yang langsung sempurna, harus berangsur-angsur).
92. Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang (Jika berhadapan perkataannya manis, tapi jika di belakang perkataannya buruk).
93. Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit (Menyelesaikan pekerjaan jangan tanggung-tanggung).
94. Anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang kampung dipertenggangkan (Pertimbangkan segala sesuatunya dengan benar, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan).
95. Ada angin baik (Punya banyak harapan).
96. Antan patah, lesung hilang (Orang yang ditimpa musibah terus-menerus).
97. Arang sudah menjadi abu (Sudah rusak sama sekali).
98. Ada sama dimakan, tidak ada sama dicari (Susah dan senang ditanggung bersama).
99. Ada bukit dibalik pendakian (Baru saja menyelesaikan suatu masalah, muncul masalah baru).
100. Ada hujan, ada panas (Ada baik, ada buruk).
101. Adat berkawan zaman berzaman (Apabila berkawan hendaknya untuk selamanya)
102. Adat sama dijunjung, lembaga disanjung, pusaka sama dijaga (Adat istiadat hendaknya harus dihormati, dipatuhi, dan dijaga kelestariannya).
103. Adat berunding di atas rumah (Jangan membicarakan masalah di sembarang tempat).
104. Adat teluk timbunan kapal, adat muara timbunan ikan (Meminta kepada yang punya, bertanya kepada yang pandai).
105. Adat air cair, adat api panas (Segala sesuatu memiliki sifat dan keistimewaan masing-masing).
106. Adat dipakai baru, pakaian dipakai usang (Adat tidak dimakan zaman, bahkan jika dipakai dan ditaati akan terpelihara dengan baik, sebaliknya harta benda jika tidak dijaga dengan baik akan rusak).
107. Adat ayam ke lesung, adat itik ke pelimbahan (Sesuatu itu akan berjalan sesuai dengan kodratnya).
108. Air sudah keruh dari hulunya (Suatu masalah yang tidak baik dari awalnya)
109. Air pasang tidak menghanyutkan (Pekerjaan besar tapi tidak membawa hasil).
110. Air ditetak tak kan putus (Mengerjakan sesuatu yang menguntungkan orang lain).
111. Akal hilang paham tertumbuk (Buntu semua jalan pikiran).
112. Akar terjumbai tempat siamang berpegang, menganjur tempat tupai menegun (Dari perkataan seseorang, dapat diketahui bahwa ia bersalah).
113. Aku nampak olah, kelibat hang sudah kutahu (Bagi orang yang bijaksana dapat mengetahui seberapa tinggi ilmu seseorang).
114. Aku tak hendak, engkau tak ingin (Sama-sama tidak mau).
115. Alah mau bertimbang enggan (Tidak menepati janji).
116. Alah bisa karena biasa (Segala kesulitan tidak terasa jika sudah terbiasa mengerjakannya).
117. Alah limau oleh benalu (Penduduk asli kalah oleh pendatang).
118. Alah membeli memang memakai (Lebih baik mengeluarkan uang lebih besar untuk mendapatkan barang yang baik dan memuaskan).
119. Alah disabung menang disorak (Sudah kalah tapi masih sombong).
120. Alamat biduk akan karam (Pertanda akan mengalami kesusahan).
121. Angguk-angguk kukuran (Seolah-olah patuh dan bodoh, tapi banyak akal).
122. Anjing menyalak di ekor gajah (Orang yang lemah hendak melawan orang yang berkuasa).
123. Apel merah mengundang batu (Sesuatu yang menarik perhatian dapat mengundang orang untuk memilikinya).
124. Awan berarak ditangisi (Bersedih hati mengenang nasib yang tak beruntung).
125. Arang habis, besi binasa (Pekerjaan yang tidak menghasilkan apa-apa).
126. Asal ada kecil pun pada (Jika tidak banyak tersedia, sedikit pun cukup).
127. Aus telunjuk mencolek ragam (Orang yang selalu ditimpa kemiskinan).
128. Awak rendah, sangkutan tinggi (Pengeluaran lebih besar daripada penghasilan).
129. Awal dikenal, akhir tidak (Tidak mempertimbangkan akibatnya).
130. Ayam bertelur sebutir ribut seluruh negeri, penyu bertelur beribu-ribu tak seorang pun tahu (Punya kekayaan sedikit sudah membanggakan diri).
131. Ayam berinduk, sirih berjunjung (Orang yang lemah harus dilindungi).
132. Ayam hitam terbang malam, bertali ijuk bertambang tanduk, hinggap di kebun rimbun (Kejahatan yang tidak atau belum diketahui orang lain)
133. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasai, bertali benang bertambang tanduk (Suatu masalah yang telah diketahui semua orang).
134. Ayam tangkas di gelanggang (Orang yang pandai berbicara atau berpidato di depan umum).
135. Ayam lepas tangan bercirit (Seseorang yang berbuat kejahatan, akhirnya mendapat malu).
136. Anak badak dihambat-hambat (Sengaja mencari bahaya).
137. Adat rimba, siapa berani ditaati (Penguasa yang melalaikan tugas dan hukum).
138. Adat bersendi syarak, syarak bersendi adat (Sebelum bertindak dipikirkan untung dan ruginya).
139. Adat negeri memagar negeri, adat kampung memagar kampung (Suka menolong sesama).
140. Adakah hilang bisa ular karena menyusup akar (Orang besar jika merendahkan diri tetap saja derajatnya tidak akan turun).
141. (air) susu dibalas dengan (air) tuba
kebaikan dibalas dengan kejahatan
142. (bagai) duri dalam daging
sesuatu yang selalu menyakitkan hati atau mengganggu pikiran
>> (sampai) ke tulang sumsum
, mendalam sekali (perasaan dingin dsb)
143. (sebagai durian) pangsa menunjukkan bangsa (sebagai durian menunjukkan pangsa nya)
kelakuan (perkataan dsb) seseorang menunjukkan tinggi rendahnya budi pekerti (asal dsb)
144. (seperti) abu di atas tanggul
tidak tetap kedudukannya (sewaktu-waktu dapat dipecat dsb)
145. ada angin ada pohon nya (hujan berpohon,
panas berasal)
segala hal ada asal mulanya (sebab-sebabnya)
146. ada bangkai ada hering
jika ada perempuan lacur, banyak laki-laki yang datang
147. ada beras , taruh dalam padi
rahasia hendaklah disimpan baik-baik
segala hal ada asal mulanya (sebab-sebabnya)
146. ada bangkai ada hering
jika ada perempuan lacur, banyak laki-laki yang datang
147. ada beras , taruh dalam padi
rahasia hendaklah disimpan baik-baik
148. ada biduk serempu pula
tidak pernah merasa puas, selalu menginginkan yang lain
149. ada biduk serempu pula
tidak puas dengan apa yang ada
150. ada gula ada semut
di mana banyak kesenangan di situlah banyak orang datang
>>ada gula ada semut
orang akan berdatangan ke tempat yang menyenangkan
>>ada hujan ada panas, ada hari boleh balas
selalu ada kesempatan untuk membalas dendam
>>ada nyawa (umur) ada rezeki
selama masih hidup kita tentu masih sanggup berusaha
>>ada padi segala menjadi
orang kaya dapat mencapai apa yang diinginkannya
>>ada rotan ada duri
dalam kesenangan tentu ada kesusahannya
>>ada rupa ada harga
harga barang ditentukan oleh keadaan barang
>>ada sampan hendak berenang
sengaja berpayah-payah padahal sebenarnya tidak perlu berbuat begitu
>>ada uang ada barang
jika sanggup membayar banyak akan mendapat barang yang lebih baik
>>ada ubi ada talas, ada budi ada balas
kejahatan dibalas dengan kejahatan, kebaikan dibalas dengan kebaikan; barang siapa yang berbuat sesuatu tentu akan mendapat balasan yang setimpal
>>ada udang (berudang) di balik batu
ada suatu maksud yang tersembunyi
>>adakah buaya menolak bangkai
orang jahat akan berbuat jahat kalau ada kesempatan
>>adapun manikam itu jika dijatuhkan ke dalam limbahan sekalipun, niscaya tidak hilang cahayanya
orang yang asalnya baik jika ia miskin ataupun menjadi suruh-suruhan orang, tabiatnya, kelakuannya, dan budi bahasanya tetap baik
>>adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah
pekerjaan (perbuatan) hendaklah selalu mengingat aturan adat dan agama (jangan bertentangan satu dengan yang lain)
>>adat dagang tahan tawar
sudah biasa bahwa barang dagangan boleh ditawar
>>adat diisi janji dilabuh
adat harus dijalankan, persetujuan harus ditepati
>>adat diisi lembaga dituang
hendaklah segala sesuatu dilakukan menurut kebiasaan
>>adat diisi, lembaga dituang
melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan
>>adat diisi, lembaga dituang
dilakukan menurut aturan yang lazim
>>adat hidup tolong-menolong, syariat palu-memalu
dalam kehidupan sehari-hari harus saling menolong, dalam agama saling membantu
>>adat hidup tolong-menolong, syariat palu-memalu
dalam kehidupan sehari-hari harus saling menolong, dalam agama saling membantu
>>adat pasang berturun naik
keadaan yang selalu berubah-ubah, terutama tentang kekayaan atau kedudukan seseorang
>>adat periuk berkerak, adat lesung berdekak
jika seseorang ingin beroleh keuntungan dalam satu pekerjaan, hendaklah ia dapat menanggung kesusahan
>>adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung
segala sesuatu ada tata caranya
>>adat teluk timbunan kapal
biasanya orang yang berpengaruh (berkuasa dsb) menjadi tempat orang meminta pertolongan (untuk menyelesaikan perkara dsb)
>>agih-agih kungkang
terlampau murah hati sehingga menderita kesusahan
>>air beriak tanda tak dalam
orang yang banyak cakap (sombong dsb), biasanya kurang ilmunya
>>air beriak tanda tak dalam
orang yang sombong, besar cakap, biasanya tidak berisi
>>air besar batu bersibak
persaudaraan (keluarga) menjadi cerai-berai apabila terjadi perselisihan
>>air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga
biasanya sifat anak menurut teladan orang tuanya
>>air di daun keladi (daun keladi dimandikan)
sukar diajar atau dinasihati
>>air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam
tidak enak makan dan minum (karena terlalu sedih dsb)
>>air jernih ikannya jinak
negeri yang serba teratur dengan penduduknya yang serba baik, baik pula budi bahasanya
>>air lalu kubang tohor
uang yang diterimanya lekas habis untuk membayar utang dsb
>>air susu dibalas dengan air tuba
perbuatan baik dibalas dengan perbuatan jahat
>>air tenang (biasa) menghanyutkan
orang yang pendiam biasanya banyak pengetahuannya
>>air tenang menghanyutkan
orang yang pendiam, tetapi banyak pengetahuannya
>>akan dijadikan tabuh singkat, akan dijadikan genderang berlebih
serba tanggung
>>alah (kalah) -, menang memakai
biarpun harganya mahal, tetapi dapat dipakai lama karena mutunya baik
>>alah bisa karena biasa
kalah kepandaian oleh latihan
>>alah bisa oleh (karena) biasa
sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi
>>alah bisa tegal biasa
sesuatu menjadi biasa, dan tidak terasa sukar lagi; pengalaman praktik lebih baik daripada teori
>>alah di rumpun betung
kekalahan yang tidak memuaskan pihak yang kalah
>>alah limau oleh benalu
orang yang merugikan atau menguasai orang atau tempatnya menumpang
>>alah main, menang sarak
biarpun kalah main asal kehormatan diri terpelihara
>>alah menang tak tahu, bersorak boleh
perihal seseorang yang tidak ikut campur dalam dua pihak yang sedang berbantah, tetapi hanya ikut mengejek pihak yang telah tentu kalah
>>alang berjawab, tepuk -
baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat
>>alang-alang berdawat biarlah hitam
jika mengerjakan sesuatu janganlah tanggung-tanggung
>>alur bertempuh, jalan berturut
dilakukan menurut adat (kebiasaan) yang lazim
>>anak ayam kehilangan induk
ribut dan bercerai-berai karena kehilangan tumpuan
>>anak badak dihambat-hambat
dengan sengaja mencari bahaya
>>anak baik menantu molek
mendapat keuntungan yang berlipat ganda
>>anak dipangku dilepaskan, beruk dalam rimba disusukan (disusui)
selalu membereskan (memikirkan) urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan
>>anak orang, anak orang juga
seseorang yang asing bagi kita akan tetap asing juga
>>anak sendiri disayangi, anak tiri dibengkengi
bagaimanapun adilnya seseorang, kepentingan sendiri juga yang diutamakan
>>angan lalu, paham tertumbuk
suatu hal yang banyak halangannya meskipun tampaknya dapat dilakukan dengan mudah
>>angguk bukan, geleng ia
lain di mulut lain di hati
>>antan patah lesung hilang
tertimpa berbagai musibah (kecelakaan; kesusahan)
>>antan patah, lesung hilang
kemalangan yang bertimbun-timbun
>>apa gunanya kemenyan sebesar tungku kalau tidak dibakar
tidak ada gunanya ilmu pengetahuan yang disimpan saja kalau tidak diajarkan kepada orang lain atau tidak dipraktikkan (tidak dimanfaatkan)
>>apa yang kurang pada belida , sisik ada tulang pun ada
orang yang berkecukupan, tidak ada yang kurang padanya
>>api padam puntung berasap
perkara yang sudah putus, tetapi timbul lagi
>>api padam puntung hanyut
sudah habis (tamat) benar-benar
>>arang habis besi binasa
pekerjaan yang telah banyak menghabiskan tenaga dan biaya, tetapi hasilnya tidak ada
>>arang itu jikalau dibasuh dengan air mawar sekalipun, tiada akan putih
tabiat orang yang dasarnya sudah buruk, tidak akan dapat diperbaiki lagi
>>asal ada kecil pun pada
kalau tidak mendapat banyak, sedikit pun cukup
>>asal ada sama di hati, gajah terantai boleh dilepaskan
kalau sudah ada persetujuan, apa pun halangannya dapat diatasi
>>asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan
tabiat orang tidak akan berubah
>>asal berinsang , ikanlah
tidak pilih-pilih (pekerjaan, makanan, perempuan, dsb)
>>asal menugal adalah benih
setiap perbuatan tentu akan ada hasilnya (ada yang memperhatikan)
>>asam di darat, ikan di laut (garam di laut asam di gunung) bertemu dalam belanga
laki-laki dan perempuan kalau jodoh bertemu juga akhirnya
>>asing lubuk, asing ikannya
lain daerah, lain adatnya
>>asing maksud, asing sampai
tidak sesuai dengan yang diharapkan
>>atap rumbia (ijuk) perabung upih
barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk
>>aur ditanam, betung tumbuh
mendapat untung (laba) banyak
>>aur ditarik sungsang
banyak sangkut-pautnya sehingga susah dilaksanakan
>>awak tikus hendak menampar kepala kucing
menghendaki sesuatu yg tidak mungkin diperoleh atau terjadi
>>awak yang payah membelah ruyung , orang lain yang beroleh sagunya
kita yang berusaha dan bersusah payah, tetapi orang lain yang mendapat faedahnya
>>ayam bertelur di padi
hidup senang dan mewah
>>ayam ditambat disambar elang
malang sekali; bernasib buruk
>>ayam hitam terbang malam
sukar ketahuan (tentang perkara dsb)
>>ayam itik raja pada tempatnya
setiap orang berkuasa di tempatnya atau di lingkungannya
>>ayam laga sekandang
berkelahi atau bertengkar dengan keluarga sendiri atau teman seperguruan
>>ayam putih terbang siang
mudah ketahuan (tentang perkara dsb)
>>babi merasa gulai
menyama-nyamai orang besar (kaya)
>>badak makan anak
ayah membuang anaknya karena takut akan musnah kebesarannya (pada raja-raja zaman dahulu)
>>bagai - kain dapat
memakai sesuatu barang (pinjaman) dengan sekehendak hati saja
>>bagai air di daun talas
selalu berubah-ubah (tidak tetap pendirian)
>>bagai air ditarik sungsang
melakukan sesuatu yang menjadi sukar karena salah jalan
>>bagai anak sepat ketohoran
berbaring bermalas saja
>>bagai anjing melintang denai
sangat gembira (sombong)
>>bagai ayam dibawa ke lampok
keheranan melihat sesuatu
>>bagai balam dengan ketitir
perihal dua orang yang selalu bertengkar, masing-masing membanggakan dirinya
>>bagai batu jatuh ke lubuk
hilang lenyap (orang yang meninggalkan tempat)
>>bagai beliung dengan asahan
sangat karib (tidak pernah bercerai)
>>bagai belut digetil ekor
lancar (cepat sekali)
>>bagai belut diregang
seseorang yang tinggi kurus
>>bagai belut kena ranjau (getah)
seseorang yang licik dan cerdik dapat juga tertangkap atau tertipu
>>bagai bertanak di kuali
bermurah hati kepada orang lain sehingga mendatangkan kesusahan kepada diri sendiri
>>bagai bertanak di kuali
bermurah hati kepada orang lain sehingga mendatangkan kesusahan kepada diri sendiri
>>bagai beruk kena ipuh
menggeliat-geliat karena kesakitan dsb
>>bagai berumah di tepi tebing
selalu tidak aman hatinya
>>bagai bulan dengan matahari
sebanding; sesuai
>>bagai bulan kesiangan
pucat dan lesu
>>bagai buntal kembung
bodoh dan sombong
>>bagai bunyi cempedak jatuh
bunyi seperti barang berat jatuh
>>bagai bunyi siamang kenyang
banyak bicara karena mendapat kesenangan
>>bagai dawat dengan kertas
tidak pernah bercerai; tidak dapat dipisahkan
>>bagai dekan di bawah pangkal buluh
seseorang yang pandai menyimpan rahasia
>>bagai dekan di bawah pangkal buluh
seseorang yang pandai menyimpan rahasia
>>bagai denai gajah lalu
hal yang tidak mungkin dapat disembunyikan
>>bagai dulang dengan tudung saji
sangat serasi
>>bagai duri dalam daging
selalu terasa tidak menyenangkan hati
>>bagai gadis jolong bersubang
sombong atau sangat riang (karena baru saja menjadi kaya, berpangkat tinggi, dsb)
>>bagai garam jatuh ke air
nasihat dsb yang mudah diterima
>>bagai getah dibawa ke semak
makin kusut (tentang perkara)
>>bagai ikan dalam keroncong
tidak tertolong lagi; tidak ada harapan lagi untuk meloloskan diri
>>bagai ikan kena tuba
banyak orang sakit atau mati dl sebuah kampung (negeri)
>>bagai ilak bercerai dengan benang
bercerai untuk selama-lamanya (tidak akan bertemu lagi)
>>bagai inai dengan kuku
tidak pernah bercerai
>>bagai itik pulang petang
sangat lambat (jalannya)
>>bagai jampuk kesiangan hari
kebingungan atau termenung karena kehilangan akal
>>bagai jawi ditarik keluan
menurut saja (karena tidak dapat melawan)
>>bagai jawi terkurung
sangat gelisah atau kurang senang karena terpingit atau terikat oleh adat
>>bagai kacang direbus satu
melonjak-lonjak kegirangan
>>bagai kapal tidak bertiang
perihal negeri atau perkumpulan (perhimpunan) yang tidak mempunyai pemimpin
>>bagai kapas -
putih bersih
>>bagai keluang bebar petang
ramai-ramai berkerumun
>>bagai kena buah malaka
sangat terperanjat seolah-olah kena peluru karena penghinaan yang tidak disangka-sangka
>>bagai kena santung pelalai
gadis yang lupa (tidak ingat) akan bersuami (karena diguna-gunai orang)
>>bagai kerakap tumbuh di (di atas) batu, hidup enggan mati tak mau
hidup dalam kesukaran (kemelaratan)
>>bagai kinantan hilang taji
seseorang yang telah kehilangan penghargaan
>>bagai kucing dibawakan lidi
sangat ketakutan
>>bagai kucing lepas senja
sukar dicari
>>bagai kuku dengan daging
tidak terceraikan; tidak pernah bercerai
>>bagai kuku dengan isi
sukar diceraikan; tidak pernah bercerai
>>bagai langau di ekor gajah
selalu tunduk kepada kemauan orang besar atau orang pandai
>>bagai manik putus talinya (pengarang)
perihal air mata yang bercucuran
>>bagai melihat asam
ingin sekali
>>bagai melulusi baju sempit (bagai terbuang ke sisiran)
seseorang yang merasa senang karena terlepas dari kesusahan
>>bagai membakar tunam basah
hal mengajar anak yang bodoh, sukar dimengerti (diterima) pelajaran itu olehnya
>>bagai menakik darah mati dari alu (bagai menakik darah mati dari batu)
bekerja keras tetapi sedikit hasilnya
>>bagai menentang matahari
melawan atau menyanggah kekuatan atau kekuasaan yang jauh lebih tinggi daripada kuasa atau kekuatan penyanggah itu tentu akan binasa
>>bagai menggenggam bara, terasa hangat dilepaskan
melakukan suatu pekerjaan setelah mendapatkan kesukaran, pekerjaan itu ditinggalkan
>>bagai menghela rambut dalam tepung
pekerjaan yang sulit atau pekerjaan yang harus dikerjakan dengan hati-hati sekali
>>bagai menghela tali jala
sangat berhati-hati
>>bagai menyandang galas tiga
pekerjaan yang ringan, tetapi sukar melakukannya
>>bagai menyukat belut
pekerjaan yang sia-sia
>>bagai orang kena miang
gelisah sekali karena mendapat malu
>>bagai pahat , tidak ditukul tidak makan
orang yang mau bekerja apabila diperintah
>>bagai pelita kehabisan minyak
tidak berseri-seri lagi
>>bagai perian pecah
suara yang sember (tidak merdu)
>>bagai pimping di lereng
orang yang tidak berpendirian tetap
>>bagai pinang belah dua
sama besar, serupa benar
>>bagai pintu tak berpasak, perahu tak berkemudi
sesuatu yang membahayakan
>>bagai pucuk (enau) dilancarkan (diluncurkan)
sangat lancar; cepat sekali
>>bagai pucuk pisang didiang
lemah sekali; tidak bertenaga
bagai rambut dibelah tujuh (seribu)
sedikit (kecil) sekali
>>bagai rupa orang terkena beragih
bermuka masam karena rugi dsb (dalam perdagangan)
>>bagai serangkak tertimbakan
berjalan miring karena cacat pada tubuhnya
>>bagai serdadu pulang baris
orang yang kelihatannya selalu bergaya, tetapi pekerjaannya berat dan berbahaya
>>bagai si bisu berasian (bermimpi), terasa ada terkatakan tidak
tidak dapat mengatakan meskipun tahu (mengerti)
>>bagai si kudung beroleh cincin
beroleh keuntungan, tetapi tidak dapat menikmatinya
>>bagai si kudung panji -
pekerjaan yang dilaksanakan tidak berdasarkan kemampuan akan sia-sia
>>bagai si lumpuh hendak merantau
tidak mungkin dikerjakan
>>bagai siamang kurang kayu
sangat bersedih hati karena menderita kekurangan
>>bagai tanduk bersendi gading
jodoh yang tidak sepadan
>>bagai tanduk diberkas
sangat sukar untuk disatukan (karena tidak sepaham atau sependirian)
>>bagai tikus membaiki labu
orang yg mencoba memperbaiki sesuatu yg tidak diketahuinya, akhirnya merusaknya
>>bagai unta menyerahkan diri
amat patuh menurut perintah; mengaku salah dan bertobat; menyerah dan menurut
>>bagaikan rama-rama masuk api
musnah dengan cepat
>>bagaimana bunyi gendang , begitulah tarinya
menurut segala perintah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan
>>bagaimana ditanam begitulah dituai
tiap-tiap orang berbuat jahat, jahat pula balasannya, demikian pula kebalikannya
>>bagaimana ditanam begitulah dituai
tiap-tiap orang berbuat jahat, jahat pula balasannya, demikian pula kebalikannya
>>bagaimana ditanam, begitulah dituai
seseorang akan mendapat balasan seperti yang diperbuatnya
>>bahasa menunjukkan bangsa
budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang (baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan)
>>baik berjagung-jagung sementara padi belum masak
lebih baik dipakai dulu yang ada sementara yang baru belum didapatkan
>>baik rupa sepemandangan , baik bunyi sependengaran
cocok; seia sekata
>>bajak patah banting terambau
menderita kecelakaan bertimpa-timpa
>>bajak selalu di tanah yang lembut
orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah
>>bajak sudah terdorong ke bancah
sudah terlanjur (tidak dapat kembali)
>>baji dahan membelah dahan
memboroskan harta tuannya
>>baju indah dari balai, tiba di rumah menyarungkan
hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi
>>bak ilmu padi , kian berisi kian runduk
selalu merendahkan diri (tidak sombong)
>>bak mandi di air kiambang, pelak lepas gatal pun datang
sesuatu yang diperoleh itu sekalipun berguna juga, tetapi kemudian mendatangkan yang lebih menyiksa
>>bak menanti orang dahulu, bak melalah orang kudian
melakukan sesuatu yang sia-sia
>>bak tengguli ditukar cuka
suatu kejadian yang bertukar dari keadaan yang menggembirakan ke keadaan yang menyedihkan
>>bakar tidak -
maksud jahat yang tersembunyi
>>bala lalu dibawa singgah
sengaja mencari kesusahan (kecelakaan)
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak orang banyak ragam nya
tiap-tiap orang mempunyai pendapat (kemauan) sendiri-sendiri
>>bapak badari , cak
pemimpin dsb yang penghidupannya diperoleh dari pengikutnya
>>barang siapa menggali lubang , ia akan terperosok ke dalamnya
siapa yang berniat (berbuat) jahat terhadap orang lain akan mendapat kecelakaan sendiri
>>barang siapa yang berketuk ialah yang bertelur
siapa yang merasa tersindir, dialah yang berbuat seperti yang disindirkan itu
>>barang tergenggam jatuh terlepas
sesuatu yang sudah dikuasai (dimiliki), terlepas lagi (menderita kemalangan)
>>batang betung beruas-ruas
sangat jujur; lurus hati
>>batu hitam tak bersanding
tampaknya lemah lembut, tetapi keras hatinya (sukar mengalahkannya, melawannya, dsb)
>>bau busuk tidak berbangkai
celaan (fitnah dsb) yang tidak benar
>>bau nya setahun pelayaran
berbau busuk sekali
>>bayang-bayang disangka tubuh
mengharapkan sesuatu yang belum pasti
>>bayang-bayang sepanjang badan
tepat benar menurut keadaannya (harapannya, kemampuannya, dsb)
>>bayang-bayang tidak sepanjang badan
berbuat sesuatu yang melebihi dari (tidak sesuai dengan) kemampuannya
>>beban berat senggulung batu
tanggungan yang sangat berat
>>beban berat senggulung batu
melakukan pekerjaan yang berat dan sukar, sedangkan alat untuk melaksanakannya atau membantunya kurang baik
>>becermin di air keruh
mencontoh perbuatan yang kurang baik
>>belakang parang lagi jika diasah niscaya tajam
sebodoh-bodohnya orang, jika berusaha dan belajar akan menjadi pandai
>>belalang dapat menuai
dapat keuntungan tanpa disengaja
>>belalang hendak menjadi elang
orang bodoh (hina) berlaku seperti orang pandai (terhormat)
>>belanak bermain di atas karang
ombak besar (sehingga ikan belanak yang biasanya senang diam dalam pasir laut, naik ke permukaan laut)
>>belukar sudah menjadi rimba
kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi
>>belum (sudah) diasapi kemenyan
belum (sudah) kawin
>>belum beranak sudah ditimang
bersenang-senang sebelum maksudnya tercapai
>>belum beranak sudah ditimang belum duduk sudah berlunjur
terlampau cepat gembira sebelum maksud tercapai
>>belum bergigi hendak mengunyah (menggigit)
hendak melakukan sesuatu, tetapi belum ada sarananya
>>belum bertaji hendak berkokok
belum berilmu (kaya, kuasa, dsb) sudah hendak menyombongkan diri
>>belum dipanjat asap kemenyan
belum kawin
>>belum duduk belunjur dulu
sudah bergirang hati lebih dahulu sebelum tercapai apa yang dikehendaki
>>belum duduk sudah belunjur
sudah bergirang hati dulu sebelum tercapai yang dikehendaki
>>belum duduk sudah mengunjur
sudah bergirang hati sebelum tercapai apa yang diinginkannya
>>belum punya kuku hendak mencubit
belum mempunyai kekuasaan sudah hendak mencari-cari kesalahan orang
>>belum tahu di pedas lada
belum berpengalaman
>>belum tahu di pedas lada
masih muda sekali; belum berpengalaman
>>belum tegak hendak berlari
lekas-lekas hendak marah, sebelum mengetahui benar kesalahan orang yang hendak dimarahi; belum duduk sudah belunjur
>>belum tentu hilir mudik nya
belum tentu keputusan atau kesudahan suatu hal atau perkara; kokoh, baik dalam soal yang kecil-kecil maupun dalam soal yang besar-besar
>>belum tentu si upik si buyungnya
belum tentu kesudahannya
>>benci akan mencit rengkiang disunu
sebab takut akan bahaya yang kecil, dibuanglah keuntungan yang banyak
>>berair rongkong
mendapat rezeki (keuntungan)
>>beraja di hati, bersultan di mata, ( beraja di mata, bersultan di hati)
menurutkan kemauan sendiri
>>berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian
bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian
>>beranak tiada -
mendapat kesusahan (kecelakaan dsb) karena salahnya sendiri
>>berani hilang tak hilang, berani mati tak mati
melakukan pekerjaan hendaklah jangan tanggung-tanggung atau takut-takut
>>berani malu, takut mati
berani melakukan pekerjaan terlarang, setelah ketahuan baru menyesal
>>berani menjual, berani membeli ( berani pegang, berani tanggung)
jika berani mengatakan (memerintahkan), hendaknya berani melakukan juga
>>berani sendok pengedang, air hangat direnanginya
perihal orang berani, tetapi bodoh
>>berapa berat mata memandang, berat juga bahu memikul
betapapun menderita orang melihat, lebih menderita orang yang mengalami (kesusahan dsb)
>>berarak ke tebing
melakukan pekerjaan yang mendapatkan kecelakaan atau kerugian
>>berarak tidak berlari
melakukan sesuatu sebagaimana mestinya
>>berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
suka duka, baik buruk sama-sama ditanggung
>>berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
bersama-sama dalam suka dan duka
>>berat sepikul, ringan sejinjing
bersama- sama dalam suka dan duka
>>berbilang dari esa, mengaji dari alif
jika mengerjakan sesuatu hendaknya dimulai dari permulaan
>>berbuat jahat jangan sekali, terbawa cemar segala ahli
jangan sekali-kali berbuat jahat karena nama baik keluarga akan terbawa-bawa menjadi buruk
>>berbukit di balik pendakian
lepas dari kesukaran yang satu mendapat kesukaran lain
>>bercekak henti, silat terkenang
buah pikiran yang sudah terlambat tidak ada gunanya
>>bercerai sudah, talak tidak
sudah berpisah, tetapi belum sah diceraikan
>>bercerai tidak bertalak (kalau bercerai tidak usah menjatuhkan talak)
pertalian suami-istri yang tidak sah
>>berdiang di abu dingin
tidak mendapat apa-apa (dari saudara, tuan rumah, dsb)
>>berebut lontong tanpa isi
berlomba-lomba memperoleh sesuatu yang tidak berguna
>>berebut temiang belah
berkelahi memperebutkan sesuatu yang tidak berharga
>>berebut temiang hanyut, tangan luka temiang tak dapat
dua orang yang memperebutkan sesuatu sampai luka-luka, tetapi tidak ada hasilnya
>>berendam se sayak air, berpaut sejengkal tali
penghidupan yang sangat susah (serba kekurangan)
>>berendam sesayak air, berpaut sejengkal tali
hidup serba kekurangan
>>bergaduk diri, saku-saku diterbangkan angin
banyak membual, tetapi kantongnya kosong
>>bergantung di ujung kuku
dalam keadaan yang sangat berbahaya
>>bergantung pada rambut sehelai
berada dalam keadaan yang sangat sulit (bahaya)
>>bergantung pada tali rapuh
menyandarkan hidupnya pada orang (jabatan, pekerjaan, dsb) yang lemah atau tidak tetap
>>bergantung tidak bertali (sehasta tali)
perempuan yang ditinggalkan suaminya, tetapi tidak pula diceraikan; (b) keadaan seorang gundik yang tidak sah
>>berguru dahulu sebelum bergurau
belajar dahulu sebelum bersenang-senang
tidak pernah merasa puas, selalu menginginkan yang lain
149. ada biduk serempu pula
tidak puas dengan apa yang ada
150. ada gula ada semut
di mana banyak kesenangan di situlah banyak orang datang
>>ada gula ada semut
orang akan berdatangan ke tempat yang menyenangkan
>>ada hujan ada panas, ada hari boleh balas
selalu ada kesempatan untuk membalas dendam
>>ada nyawa (umur) ada rezeki
selama masih hidup kita tentu masih sanggup berusaha
>>ada padi segala menjadi
orang kaya dapat mencapai apa yang diinginkannya
>>ada rotan ada duri
dalam kesenangan tentu ada kesusahannya
>>ada rupa ada harga
harga barang ditentukan oleh keadaan barang
>>ada sampan hendak berenang
sengaja berpayah-payah padahal sebenarnya tidak perlu berbuat begitu
>>ada uang ada barang
jika sanggup membayar banyak akan mendapat barang yang lebih baik
>>ada ubi ada talas, ada budi ada balas
kejahatan dibalas dengan kejahatan, kebaikan dibalas dengan kebaikan; barang siapa yang berbuat sesuatu tentu akan mendapat balasan yang setimpal
>>ada udang (berudang) di balik batu
ada suatu maksud yang tersembunyi
>>adakah buaya menolak bangkai
orang jahat akan berbuat jahat kalau ada kesempatan
>>adapun manikam itu jika dijatuhkan ke dalam limbahan sekalipun, niscaya tidak hilang cahayanya
orang yang asalnya baik jika ia miskin ataupun menjadi suruh-suruhan orang, tabiatnya, kelakuannya, dan budi bahasanya tetap baik
>>adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah
pekerjaan (perbuatan) hendaklah selalu mengingat aturan adat dan agama (jangan bertentangan satu dengan yang lain)
>>adat dagang tahan tawar
sudah biasa bahwa barang dagangan boleh ditawar
>>adat diisi janji dilabuh
adat harus dijalankan, persetujuan harus ditepati
>>adat diisi lembaga dituang
hendaklah segala sesuatu dilakukan menurut kebiasaan
>>adat diisi, lembaga dituang
melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan
>>adat diisi, lembaga dituang
dilakukan menurut aturan yang lazim
>>adat hidup tolong-menolong, syariat palu-memalu
dalam kehidupan sehari-hari harus saling menolong, dalam agama saling membantu
>>adat hidup tolong-menolong, syariat palu-memalu
dalam kehidupan sehari-hari harus saling menolong, dalam agama saling membantu
>>adat pasang berturun naik
keadaan yang selalu berubah-ubah, terutama tentang kekayaan atau kedudukan seseorang
>>adat periuk berkerak, adat lesung berdekak
jika seseorang ingin beroleh keuntungan dalam satu pekerjaan, hendaklah ia dapat menanggung kesusahan
>>adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung
segala sesuatu ada tata caranya
>>adat teluk timbunan kapal
biasanya orang yang berpengaruh (berkuasa dsb) menjadi tempat orang meminta pertolongan (untuk menyelesaikan perkara dsb)
>>agih-agih kungkang
terlampau murah hati sehingga menderita kesusahan
>>air beriak tanda tak dalam
orang yang banyak cakap (sombong dsb), biasanya kurang ilmunya
>>air beriak tanda tak dalam
orang yang sombong, besar cakap, biasanya tidak berisi
>>air besar batu bersibak
persaudaraan (keluarga) menjadi cerai-berai apabila terjadi perselisihan
>>air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga
biasanya sifat anak menurut teladan orang tuanya
>>air di daun keladi (daun keladi dimandikan)
sukar diajar atau dinasihati
>>air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam
tidak enak makan dan minum (karena terlalu sedih dsb)
>>air jernih ikannya jinak
negeri yang serba teratur dengan penduduknya yang serba baik, baik pula budi bahasanya
>>air lalu kubang tohor
uang yang diterimanya lekas habis untuk membayar utang dsb
>>air susu dibalas dengan air tuba
perbuatan baik dibalas dengan perbuatan jahat
>>air tenang (biasa) menghanyutkan
orang yang pendiam biasanya banyak pengetahuannya
>>air tenang menghanyutkan
orang yang pendiam, tetapi banyak pengetahuannya
>>akan dijadikan tabuh singkat, akan dijadikan genderang berlebih
serba tanggung
>>alah (kalah) -, menang memakai
biarpun harganya mahal, tetapi dapat dipakai lama karena mutunya baik
>>alah bisa karena biasa
kalah kepandaian oleh latihan
>>alah bisa oleh (karena) biasa
sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi
>>alah bisa tegal biasa
sesuatu menjadi biasa, dan tidak terasa sukar lagi; pengalaman praktik lebih baik daripada teori
>>alah di rumpun betung
kekalahan yang tidak memuaskan pihak yang kalah
>>alah limau oleh benalu
orang yang merugikan atau menguasai orang atau tempatnya menumpang
>>alah main, menang sarak
biarpun kalah main asal kehormatan diri terpelihara
>>alah menang tak tahu, bersorak boleh
perihal seseorang yang tidak ikut campur dalam dua pihak yang sedang berbantah, tetapi hanya ikut mengejek pihak yang telah tentu kalah
>>alang berjawab, tepuk -
baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat
>>alang-alang berdawat biarlah hitam
jika mengerjakan sesuatu janganlah tanggung-tanggung
>>alur bertempuh, jalan berturut
dilakukan menurut adat (kebiasaan) yang lazim
>>anak ayam kehilangan induk
ribut dan bercerai-berai karena kehilangan tumpuan
>>anak badak dihambat-hambat
dengan sengaja mencari bahaya
>>anak baik menantu molek
mendapat keuntungan yang berlipat ganda
>>anak dipangku dilepaskan, beruk dalam rimba disusukan (disusui)
selalu membereskan (memikirkan) urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan
>>anak orang, anak orang juga
seseorang yang asing bagi kita akan tetap asing juga
>>anak sendiri disayangi, anak tiri dibengkengi
bagaimanapun adilnya seseorang, kepentingan sendiri juga yang diutamakan
>>angan lalu, paham tertumbuk
suatu hal yang banyak halangannya meskipun tampaknya dapat dilakukan dengan mudah
>>angguk bukan, geleng ia
lain di mulut lain di hati
>>antan patah lesung hilang
tertimpa berbagai musibah (kecelakaan; kesusahan)
>>antan patah, lesung hilang
kemalangan yang bertimbun-timbun
>>apa gunanya kemenyan sebesar tungku kalau tidak dibakar
tidak ada gunanya ilmu pengetahuan yang disimpan saja kalau tidak diajarkan kepada orang lain atau tidak dipraktikkan (tidak dimanfaatkan)
>>apa yang kurang pada belida , sisik ada tulang pun ada
orang yang berkecukupan, tidak ada yang kurang padanya
>>api padam puntung berasap
perkara yang sudah putus, tetapi timbul lagi
>>api padam puntung hanyut
sudah habis (tamat) benar-benar
>>arang habis besi binasa
pekerjaan yang telah banyak menghabiskan tenaga dan biaya, tetapi hasilnya tidak ada
>>arang itu jikalau dibasuh dengan air mawar sekalipun, tiada akan putih
tabiat orang yang dasarnya sudah buruk, tidak akan dapat diperbaiki lagi
>>asal ada kecil pun pada
kalau tidak mendapat banyak, sedikit pun cukup
>>asal ada sama di hati, gajah terantai boleh dilepaskan
kalau sudah ada persetujuan, apa pun halangannya dapat diatasi
>>asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan
tabiat orang tidak akan berubah
>>asal berinsang , ikanlah
tidak pilih-pilih (pekerjaan, makanan, perempuan, dsb)
>>asal menugal adalah benih
setiap perbuatan tentu akan ada hasilnya (ada yang memperhatikan)
>>asam di darat, ikan di laut (garam di laut asam di gunung) bertemu dalam belanga
laki-laki dan perempuan kalau jodoh bertemu juga akhirnya
>>asing lubuk, asing ikannya
lain daerah, lain adatnya
>>asing maksud, asing sampai
tidak sesuai dengan yang diharapkan
>>atap rumbia (ijuk) perabung upih
barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk
>>aur ditanam, betung tumbuh
mendapat untung (laba) banyak
>>aur ditarik sungsang
banyak sangkut-pautnya sehingga susah dilaksanakan
>>awak tikus hendak menampar kepala kucing
menghendaki sesuatu yg tidak mungkin diperoleh atau terjadi
>>awak yang payah membelah ruyung , orang lain yang beroleh sagunya
kita yang berusaha dan bersusah payah, tetapi orang lain yang mendapat faedahnya
>>ayam bertelur di padi
hidup senang dan mewah
>>ayam ditambat disambar elang
malang sekali; bernasib buruk
>>ayam hitam terbang malam
sukar ketahuan (tentang perkara dsb)
>>ayam itik raja pada tempatnya
setiap orang berkuasa di tempatnya atau di lingkungannya
>>ayam laga sekandang
berkelahi atau bertengkar dengan keluarga sendiri atau teman seperguruan
>>ayam putih terbang siang
mudah ketahuan (tentang perkara dsb)
>>babi merasa gulai
menyama-nyamai orang besar (kaya)
>>badak makan anak
ayah membuang anaknya karena takut akan musnah kebesarannya (pada raja-raja zaman dahulu)
>>bagai - kain dapat
memakai sesuatu barang (pinjaman) dengan sekehendak hati saja
>>bagai air di daun talas
selalu berubah-ubah (tidak tetap pendirian)
>>bagai air ditarik sungsang
melakukan sesuatu yang menjadi sukar karena salah jalan
>>bagai anak sepat ketohoran
berbaring bermalas saja
>>bagai anjing melintang denai
sangat gembira (sombong)
>>bagai ayam dibawa ke lampok
keheranan melihat sesuatu
>>bagai balam dengan ketitir
perihal dua orang yang selalu bertengkar, masing-masing membanggakan dirinya
>>bagai batu jatuh ke lubuk
hilang lenyap (orang yang meninggalkan tempat)
>>bagai beliung dengan asahan
sangat karib (tidak pernah bercerai)
>>bagai belut digetil ekor
lancar (cepat sekali)
>>bagai belut diregang
seseorang yang tinggi kurus
>>bagai belut kena ranjau (getah)
seseorang yang licik dan cerdik dapat juga tertangkap atau tertipu
>>bagai bertanak di kuali
bermurah hati kepada orang lain sehingga mendatangkan kesusahan kepada diri sendiri
>>bagai bertanak di kuali
bermurah hati kepada orang lain sehingga mendatangkan kesusahan kepada diri sendiri
>>bagai beruk kena ipuh
menggeliat-geliat karena kesakitan dsb
>>bagai berumah di tepi tebing
selalu tidak aman hatinya
>>bagai bulan dengan matahari
sebanding; sesuai
>>bagai bulan kesiangan
pucat dan lesu
>>bagai buntal kembung
bodoh dan sombong
>>bagai bunyi cempedak jatuh
bunyi seperti barang berat jatuh
>>bagai bunyi siamang kenyang
banyak bicara karena mendapat kesenangan
>>bagai dawat dengan kertas
tidak pernah bercerai; tidak dapat dipisahkan
>>bagai dekan di bawah pangkal buluh
seseorang yang pandai menyimpan rahasia
>>bagai dekan di bawah pangkal buluh
seseorang yang pandai menyimpan rahasia
>>bagai denai gajah lalu
hal yang tidak mungkin dapat disembunyikan
>>bagai dulang dengan tudung saji
sangat serasi
>>bagai duri dalam daging
selalu terasa tidak menyenangkan hati
>>bagai gadis jolong bersubang
sombong atau sangat riang (karena baru saja menjadi kaya, berpangkat tinggi, dsb)
>>bagai garam jatuh ke air
nasihat dsb yang mudah diterima
>>bagai getah dibawa ke semak
makin kusut (tentang perkara)
>>bagai ikan dalam keroncong
tidak tertolong lagi; tidak ada harapan lagi untuk meloloskan diri
>>bagai ikan kena tuba
banyak orang sakit atau mati dl sebuah kampung (negeri)
>>bagai ilak bercerai dengan benang
bercerai untuk selama-lamanya (tidak akan bertemu lagi)
>>bagai inai dengan kuku
tidak pernah bercerai
>>bagai itik pulang petang
sangat lambat (jalannya)
>>bagai jampuk kesiangan hari
kebingungan atau termenung karena kehilangan akal
>>bagai jawi ditarik keluan
menurut saja (karena tidak dapat melawan)
>>bagai jawi terkurung
sangat gelisah atau kurang senang karena terpingit atau terikat oleh adat
>>bagai kacang direbus satu
melonjak-lonjak kegirangan
>>bagai kapal tidak bertiang
perihal negeri atau perkumpulan (perhimpunan) yang tidak mempunyai pemimpin
>>bagai kapas -
putih bersih
>>bagai keluang bebar petang
ramai-ramai berkerumun
>>bagai kena buah malaka
sangat terperanjat seolah-olah kena peluru karena penghinaan yang tidak disangka-sangka
>>bagai kena santung pelalai
gadis yang lupa (tidak ingat) akan bersuami (karena diguna-gunai orang)
>>bagai kerakap tumbuh di (di atas) batu, hidup enggan mati tak mau
hidup dalam kesukaran (kemelaratan)
>>bagai kinantan hilang taji
seseorang yang telah kehilangan penghargaan
>>bagai kucing dibawakan lidi
sangat ketakutan
>>bagai kucing lepas senja
sukar dicari
>>bagai kuku dengan daging
tidak terceraikan; tidak pernah bercerai
>>bagai kuku dengan isi
sukar diceraikan; tidak pernah bercerai
>>bagai langau di ekor gajah
selalu tunduk kepada kemauan orang besar atau orang pandai
>>bagai manik putus talinya (pengarang)
perihal air mata yang bercucuran
>>bagai melihat asam
ingin sekali
>>bagai melulusi baju sempit (bagai terbuang ke sisiran)
seseorang yang merasa senang karena terlepas dari kesusahan
>>bagai membakar tunam basah
hal mengajar anak yang bodoh, sukar dimengerti (diterima) pelajaran itu olehnya
>>bagai menakik darah mati dari alu (bagai menakik darah mati dari batu)
bekerja keras tetapi sedikit hasilnya
>>bagai menentang matahari
melawan atau menyanggah kekuatan atau kekuasaan yang jauh lebih tinggi daripada kuasa atau kekuatan penyanggah itu tentu akan binasa
>>bagai menggenggam bara, terasa hangat dilepaskan
melakukan suatu pekerjaan setelah mendapatkan kesukaran, pekerjaan itu ditinggalkan
>>bagai menghela rambut dalam tepung
pekerjaan yang sulit atau pekerjaan yang harus dikerjakan dengan hati-hati sekali
>>bagai menghela tali jala
sangat berhati-hati
>>bagai menyandang galas tiga
pekerjaan yang ringan, tetapi sukar melakukannya
>>bagai menyukat belut
pekerjaan yang sia-sia
>>bagai orang kena miang
gelisah sekali karena mendapat malu
>>bagai pahat , tidak ditukul tidak makan
orang yang mau bekerja apabila diperintah
>>bagai pelita kehabisan minyak
tidak berseri-seri lagi
>>bagai perian pecah
suara yang sember (tidak merdu)
>>bagai pimping di lereng
orang yang tidak berpendirian tetap
>>bagai pinang belah dua
sama besar, serupa benar
>>bagai pintu tak berpasak, perahu tak berkemudi
sesuatu yang membahayakan
>>bagai pucuk (enau) dilancarkan (diluncurkan)
sangat lancar; cepat sekali
>>bagai pucuk pisang didiang
lemah sekali; tidak bertenaga
bagai rambut dibelah tujuh (seribu)
sedikit (kecil) sekali
>>bagai rupa orang terkena beragih
bermuka masam karena rugi dsb (dalam perdagangan)
>>bagai serangkak tertimbakan
berjalan miring karena cacat pada tubuhnya
>>bagai serdadu pulang baris
orang yang kelihatannya selalu bergaya, tetapi pekerjaannya berat dan berbahaya
>>bagai si bisu berasian (bermimpi), terasa ada terkatakan tidak
tidak dapat mengatakan meskipun tahu (mengerti)
>>bagai si kudung beroleh cincin
beroleh keuntungan, tetapi tidak dapat menikmatinya
>>bagai si kudung panji -
pekerjaan yang dilaksanakan tidak berdasarkan kemampuan akan sia-sia
>>bagai si lumpuh hendak merantau
tidak mungkin dikerjakan
>>bagai siamang kurang kayu
sangat bersedih hati karena menderita kekurangan
>>bagai tanduk bersendi gading
jodoh yang tidak sepadan
>>bagai tanduk diberkas
sangat sukar untuk disatukan (karena tidak sepaham atau sependirian)
>>bagai tikus membaiki labu
orang yg mencoba memperbaiki sesuatu yg tidak diketahuinya, akhirnya merusaknya
>>bagai unta menyerahkan diri
amat patuh menurut perintah; mengaku salah dan bertobat; menyerah dan menurut
>>bagaikan rama-rama masuk api
musnah dengan cepat
>>bagaimana bunyi gendang , begitulah tarinya
menurut segala perintah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan
>>bagaimana ditanam begitulah dituai
tiap-tiap orang berbuat jahat, jahat pula balasannya, demikian pula kebalikannya
>>bagaimana ditanam begitulah dituai
tiap-tiap orang berbuat jahat, jahat pula balasannya, demikian pula kebalikannya
>>bagaimana ditanam, begitulah dituai
seseorang akan mendapat balasan seperti yang diperbuatnya
>>bahasa menunjukkan bangsa
budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang (baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan)
>>baik berjagung-jagung sementara padi belum masak
lebih baik dipakai dulu yang ada sementara yang baru belum didapatkan
>>baik rupa sepemandangan , baik bunyi sependengaran
cocok; seia sekata
>>bajak patah banting terambau
menderita kecelakaan bertimpa-timpa
>>bajak selalu di tanah yang lembut
orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah
>>bajak sudah terdorong ke bancah
sudah terlanjur (tidak dapat kembali)
>>baji dahan membelah dahan
memboroskan harta tuannya
>>baju indah dari balai, tiba di rumah menyarungkan
hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi
>>bak ilmu padi , kian berisi kian runduk
selalu merendahkan diri (tidak sombong)
>>bak mandi di air kiambang, pelak lepas gatal pun datang
sesuatu yang diperoleh itu sekalipun berguna juga, tetapi kemudian mendatangkan yang lebih menyiksa
>>bak menanti orang dahulu, bak melalah orang kudian
melakukan sesuatu yang sia-sia
>>bak tengguli ditukar cuka
suatu kejadian yang bertukar dari keadaan yang menggembirakan ke keadaan yang menyedihkan
>>bakar tidak -
maksud jahat yang tersembunyi
>>bala lalu dibawa singgah
sengaja mencari kesusahan (kecelakaan)
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak menelan garam hidup
banyak pengalaman hidup
>>banyak orang banyak ragam nya
tiap-tiap orang mempunyai pendapat (kemauan) sendiri-sendiri
>>bapak badari , cak
pemimpin dsb yang penghidupannya diperoleh dari pengikutnya
>>barang siapa menggali lubang , ia akan terperosok ke dalamnya
siapa yang berniat (berbuat) jahat terhadap orang lain akan mendapat kecelakaan sendiri
>>barang siapa yang berketuk ialah yang bertelur
siapa yang merasa tersindir, dialah yang berbuat seperti yang disindirkan itu
>>barang tergenggam jatuh terlepas
sesuatu yang sudah dikuasai (dimiliki), terlepas lagi (menderita kemalangan)
>>batang betung beruas-ruas
sangat jujur; lurus hati
>>batu hitam tak bersanding
tampaknya lemah lembut, tetapi keras hatinya (sukar mengalahkannya, melawannya, dsb)
>>bau busuk tidak berbangkai
celaan (fitnah dsb) yang tidak benar
>>bau nya setahun pelayaran
berbau busuk sekali
>>bayang-bayang disangka tubuh
mengharapkan sesuatu yang belum pasti
>>bayang-bayang sepanjang badan
tepat benar menurut keadaannya (harapannya, kemampuannya, dsb)
>>bayang-bayang tidak sepanjang badan
berbuat sesuatu yang melebihi dari (tidak sesuai dengan) kemampuannya
>>beban berat senggulung batu
tanggungan yang sangat berat
>>beban berat senggulung batu
melakukan pekerjaan yang berat dan sukar, sedangkan alat untuk melaksanakannya atau membantunya kurang baik
>>becermin di air keruh
mencontoh perbuatan yang kurang baik
>>belakang parang lagi jika diasah niscaya tajam
sebodoh-bodohnya orang, jika berusaha dan belajar akan menjadi pandai
>>belalang dapat menuai
dapat keuntungan tanpa disengaja
>>belalang hendak menjadi elang
orang bodoh (hina) berlaku seperti orang pandai (terhormat)
>>belanak bermain di atas karang
ombak besar (sehingga ikan belanak yang biasanya senang diam dalam pasir laut, naik ke permukaan laut)
>>belukar sudah menjadi rimba
kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi
>>belum (sudah) diasapi kemenyan
belum (sudah) kawin
>>belum beranak sudah ditimang
bersenang-senang sebelum maksudnya tercapai
>>belum beranak sudah ditimang belum duduk sudah berlunjur
terlampau cepat gembira sebelum maksud tercapai
>>belum bergigi hendak mengunyah (menggigit)
hendak melakukan sesuatu, tetapi belum ada sarananya
>>belum bertaji hendak berkokok
belum berilmu (kaya, kuasa, dsb) sudah hendak menyombongkan diri
>>belum dipanjat asap kemenyan
belum kawin
>>belum duduk belunjur dulu
sudah bergirang hati lebih dahulu sebelum tercapai apa yang dikehendaki
>>belum duduk sudah belunjur
sudah bergirang hati dulu sebelum tercapai yang dikehendaki
>>belum duduk sudah mengunjur
sudah bergirang hati sebelum tercapai apa yang diinginkannya
>>belum punya kuku hendak mencubit
belum mempunyai kekuasaan sudah hendak mencari-cari kesalahan orang
>>belum tahu di pedas lada
belum berpengalaman
>>belum tahu di pedas lada
masih muda sekali; belum berpengalaman
>>belum tegak hendak berlari
lekas-lekas hendak marah, sebelum mengetahui benar kesalahan orang yang hendak dimarahi; belum duduk sudah belunjur
>>belum tentu hilir mudik nya
belum tentu keputusan atau kesudahan suatu hal atau perkara; kokoh, baik dalam soal yang kecil-kecil maupun dalam soal yang besar-besar
>>belum tentu si upik si buyungnya
belum tentu kesudahannya
>>benci akan mencit rengkiang disunu
sebab takut akan bahaya yang kecil, dibuanglah keuntungan yang banyak
>>berair rongkong
mendapat rezeki (keuntungan)
>>beraja di hati, bersultan di mata, ( beraja di mata, bersultan di hati)
menurutkan kemauan sendiri
>>berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian
bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian
>>beranak tiada -
mendapat kesusahan (kecelakaan dsb) karena salahnya sendiri
>>berani hilang tak hilang, berani mati tak mati
melakukan pekerjaan hendaklah jangan tanggung-tanggung atau takut-takut
>>berani malu, takut mati
berani melakukan pekerjaan terlarang, setelah ketahuan baru menyesal
>>berani menjual, berani membeli ( berani pegang, berani tanggung)
jika berani mengatakan (memerintahkan), hendaknya berani melakukan juga
>>berani sendok pengedang, air hangat direnanginya
perihal orang berani, tetapi bodoh
>>berapa berat mata memandang, berat juga bahu memikul
betapapun menderita orang melihat, lebih menderita orang yang mengalami (kesusahan dsb)
>>berarak ke tebing
melakukan pekerjaan yang mendapatkan kecelakaan atau kerugian
>>berarak tidak berlari
melakukan sesuatu sebagaimana mestinya
>>berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
suka duka, baik buruk sama-sama ditanggung
>>berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
bersama-sama dalam suka dan duka
>>berat sepikul, ringan sejinjing
bersama- sama dalam suka dan duka
>>berbilang dari esa, mengaji dari alif
jika mengerjakan sesuatu hendaknya dimulai dari permulaan
>>berbuat jahat jangan sekali, terbawa cemar segala ahli
jangan sekali-kali berbuat jahat karena nama baik keluarga akan terbawa-bawa menjadi buruk
>>berbukit di balik pendakian
lepas dari kesukaran yang satu mendapat kesukaran lain
>>bercekak henti, silat terkenang
buah pikiran yang sudah terlambat tidak ada gunanya
>>bercerai sudah, talak tidak
sudah berpisah, tetapi belum sah diceraikan
>>bercerai tidak bertalak (kalau bercerai tidak usah menjatuhkan talak)
pertalian suami-istri yang tidak sah
>>berdiang di abu dingin
tidak mendapat apa-apa (dari saudara, tuan rumah, dsb)
>>berebut lontong tanpa isi
berlomba-lomba memperoleh sesuatu yang tidak berguna
>>berebut temiang belah
berkelahi memperebutkan sesuatu yang tidak berharga
>>berebut temiang hanyut, tangan luka temiang tak dapat
dua orang yang memperebutkan sesuatu sampai luka-luka, tetapi tidak ada hasilnya
>>berendam se sayak air, berpaut sejengkal tali
penghidupan yang sangat susah (serba kekurangan)
>>berendam sesayak air, berpaut sejengkal tali
hidup serba kekurangan
>>bergaduk diri, saku-saku diterbangkan angin
banyak membual, tetapi kantongnya kosong
>>bergantung di ujung kuku
dalam keadaan yang sangat berbahaya
>>bergantung pada rambut sehelai
berada dalam keadaan yang sangat sulit (bahaya)
>>bergantung pada tali rapuh
menyandarkan hidupnya pada orang (jabatan, pekerjaan, dsb) yang lemah atau tidak tetap
>>bergantung tidak bertali (sehasta tali)
perempuan yang ditinggalkan suaminya, tetapi tidak pula diceraikan; (b) keadaan seorang gundik yang tidak sah
>>berguru dahulu sebelum bergurau
belajar dahulu sebelum bersenang-senang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar